Minggu, 14 Juni 2015

RENUNGAN


Akhi Ukhti,
Aku ingin mengajakmu untuk merenung..
Apasih makna sebuah pernikahan?
Bila sebelumnya engkau telah menyentuh pasanganmu, engkau telah duduk bersanding dengannya, engkau telah berpelukan erat dengannya, engkau telah berjalan berduaan dengannya, engkau telah bersembunyi dibalik tabir menutup pintu dari pandangan manusia bersamanya. Yang lebih parah engkau sudah pernah tidur diatas kasur berdua dengannya.
Lalu apa artinya akad nikah?
Apa gunanya resepsi?
Apa gunanya saksi dan wali?
Apa gunanya mengumummkan kepada khalayak ramai pernikahanmu?
Kalau semua orang mengetahui hubunganmu dengannya.
Dan sang pencipta telah melihat kelakuanmu selama ini.....
Apa masih ada yang sakral dari pernikahan yang seperti ini?
Hanya sekedar untuk mendapatkan buku hijau, namun semuanya sudah dilakukan sebelum akad nikah. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan berpura-pura menikah, memulai lembaran baru sebagai pasangan suami istri, yang dulunya haram menjadi halalnyang dahulu dilarang sekarang menjdi anjuran. Padahal sebelum akad nikah kau sudah menghalalkan semuanya.
ISLAM adalah agama yang menghargai wanita, menghormati dan menjaga putri Adam. Wanita dalam islam bukan barang dagangan yang bisa kau pegang-pegang sebelum kau menikahinya. Dia bukan pakaian yang bisa kau coba-coba untuk melihat keselarasannya. Dan dia bukan makanan yang bisa kau cicipi rasanya, Namun dia adalah mutiara indah didalam cangkang kerang, yang boleh disentuh, dipegang, dibuka dan dibawa oleh yang telah melakukan ijab qabul. Itulah keindahan pernikahan di dalam islam.
Kesakralan akad nikah itulah guna seorang wali dan saksi. Bukan hanya sekedar mendatangkan penghulu dan bertanda tangan di dalam buku.
Sebagian manusia merasa berakal, merasa berperadaban, merasa lebih baik dari binatang?  Namun prilakunya tak ada bedaseperti binatang!
Lihatlah ayam betina, dimana bertemu pejantan dia dinaiki olehnya. Sebagian wanita hanya dengan kedipan. Allah berfirman ;
‘‘ Dan kami telah ciptakan sebagai penghuni neraka jahanam dari bangsa jin dan manusia, mereka memiliki hati namun tidak berfikir dengannya, memiliki mata namun tidak melihat dengannya, memiliki telinga namun tidak mendengar dengannya, mereka ibarat binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat, mereka adalah orang yang lalai. Kalau tidak ingin seperti binatang, cobalah berpikir dengan hatimu, dengarkan dengan telingamu, pandanglah dengan matamu, Allah tidak menciptakanmu sia-sia.
Belajarlah agamamu kalau masih ingin disebut insan.
Ada sebuah pernikahan, suatu walimah yang penuh makna.
Pasangan pengantinnya belum pernah bersentuh tangan, belom pernah diatas motor berboncengan, belum pernah duduk berduaan. Sentuhan mereka adalah sentuhan yang dibalut mawaddah dan rahmah. Bersandingnya mereka karena perintah dan ridha yang pencipta. Pelukan mereka bernilai sedekah, sungguh indah dan penuh berkah. Semoga mereka berdua dan bersama keluarganya senantiasa dijaga Allah.
Itulah pernikahan yang sebenarnya.